Rahasia Dukun Tabib
“ Maka berobatlah kalian, akan tetapi jangan berobat dengan yang haram “
Dukun tabib adalah jenis dukun yang paling laris di Indonesia. Sekarang, praktek perdukunan seperti ini biasa bersembunyi dibalik istilah pengobatan alternatif. Tentu tidak semua pengobatan alternatif itu identik dengan perdukunan.Konon, biayanya murah, caranya mudah, hasilnya wah dan waktu yang dibutuhkanpun relatif singkat. Tingginya minat masyarakat terhadap pengobatan non medis sanggup membutakan mata dan menutup telinga akan sejumlah kegagalan yang bisa jadi lebih banyak bilangannya dari tingkat kesembuhannya. Demikian halnya dengan resiko sebagai konsekuensi dari proses penyembuhan yang mungkin terjadi, baik resiko fisik atau bahkan berupa sesatnya keyakinan.
Banyak cara dan media yang digunakan dalam pengobatan alternatif. Sebagian menggunakan tenaga dalam, tenaga prana, meditasi, memindahkan penyakit manusia ke hewan, menyalurkan energy “positif”, mantera dan jampi jampi, rajah, benda pusaka, jamu tradisional, pijat dan ada pula yang memakai dzikir-dzikir, tusuk jarum dan sebagainya.
Secara umum kita dapat mengkategorikannya menjadi 4 jenis :
1. Bersifat medis dan ilmiah murni.
2. Berupa ruqyah syar’i.
3. Klenik asli.
4. Modifikasi
Point nomor 4 yakni modifikasi antara yang medis dan ruqyah syar’I, atau antara yang medis dengan klenik, atau ruqyah dengan klenik.
Perlu kita ketahui perbedaan masing-masing jenis, karena hal ini mementukan pula hukumnya dalam pandangan Islam. Agar kita tidak terjebak pada tindakan penyembuhan dengan segala cara. Karena sebagian pengobatan tersebut ada yang dihukumi boleh secara syar’I, ada yang haram dan bahkan ada yang menjerumuskan ke dalam syirik besar yang mengeluarkan seseorang dari wilayah islam, naudzubillah
Dua Indikasi
Secara umum, cara pengobatan yang diperbolehkan tidak boleh lepas dari satu diantara dua hal yakni hissiyah(indrawi) dan syar’iyah. Adapun pengobatan secara hissiyah maupun ilmiah memang menimbulkan dampak kesembuhan, maka diperbolehkan asal tidak menggunakan sesuatu yang haram. Nabi bersabda,
“Maka berobatlah kalian, akan tetapi janganlah kalian berobat dengan yang haram.” (HR.Abu Dawud)
Begitupun dengan cara yang diijinkan syar’I seperti ruqyah syar’iyyah, meskipun tak ditemukan rumusannya dalam tinjauan medis. Nabi bersabda ,
“Tidak mengapa ruqyah yang tidak ada unsur kesyirikan.” (HR.Abu Dawud)
Diperbolehkan juga memadukan antara ruqyah syar’iyah dengan yang ilmiah. Nabi pernah mengobati sengatan kalajengking dengan air garam dan ruqyah al-fatihah.
Sedangkan pengobatan dengan klenik asli atau modifikasi antara yang klenik dengan yang lain hukumnya HARAM.
Umumnya cara ini menggunakan kekuatan gaib yang berasal dari jin. Meskipun diatas namakan khadam atau bahkan malaikat. Adapun media dan caranya amat beragam. Ada yang menggunakan sesaji, persembahan, ruwatan atau mantera mantera yang dibaca oleh dukun.
Sikap serba boleh demi sehat ini menyebabkan banyak orang terjebak ke dalam dosa dan tidak selektif memilih alternatif penyembuhan. Ada yang pergi ke dukun dan paranormal yang menyebabkan shalatnya tidak diterima selama 40 malam seperti dalam hadist yang diriwayatkan oleh Muslim.
Dukun tidak memperoleh bantuan secara gratis dari jin. Jin mau membantu mereka setelah dukun memenuhi persyaratan-persyaratan berupa persembahan, tumbal atau dalam bentuk melakukan kesyurukan dan kekafiran.
Maka tidak aneh, untuk menjalin perkoncoan tersebut sang dukun rela melakukan kekafiran, kesyirikan atau minimal dosa-dosa besar. Ada yang menjadikan manusia sebagai tumbalnya, ada yang menggagahi anak kandung sebagai syaratnya, ada yang menjadikan mushaf Al-Quran sebagai alas kaki tatkala buang air besar, bahkan ada setiap pasien datang diwajibkan mewakafkan mushaf al-qur’an untuk dikencingi. Hal ini diketahui setelah kematiannya, ketika kamar rahasia dibuka ternyata berisi tumpukan mushaf Al-Qur’an yang semua bau air kencing.
Banyak orang yang kepincut dengan pengobatan cara aneh diantaranya karena mendengar atau bahkan menyaksikan sendiri kebolehan seorang tabib. Siapa yang tidak kesengsem dengan orang yang mampu memindahkan sakit jantung seseorang ke jantung kucing, atau mengobati jarak jauh dengan cukup mengirim data diri dan tanggal lahir. Apa lagi ada embel-embel bacaan arabnya sehingga dianggap sebagai orang pintar berhaluan putih, bukan ilmu hitam, atau menyakininya sebagai wali allah.
Padahal wali allah tidaklah diindikasikan dengan tingkat kesaktian dan banyaknya hal-hal aneh yang dimiliki seseorang. Namun dengan iman dan takwanya.
Andai saja yang jadi ukuran wali allah itu kesaktiannya, tentu dajjal layak disebut wali. Betapa banyak hadits menyebutkan tentang kesaktiannya. Jika suatu kaum di daerah subur tidak mau mengimaninya serta merta menjadi tandus dan gersang tanahnya, demikian pula sebaliknya. Disamping kehebatan lain sebagai istidraj dari Allah dan bukan pertanda karomah dari-NYA.
Cara Untuk Membedakannya
Tidak terlalu sulit untuk membedakan antara pengobatan alternatif yang diperbolehkan secara syar’I dan mana yang membahayakan akidah. Kendati dalam banyak kasus dibutuhkan kejelian ekstra dalam mengidentifikasi cara pengobatan tersebut. Jika cara yang digunakan secara hissi(indrawi) dan ilmiah dapat berpengaruh terhadap kesembuhan, maka yang seperti ini tidak ada masalah. Seperti dengan ramuan tradisional atau pijat refleksi dan semisalnya dengan catatan tidak ada hal-hal aneh yang menjadi persyaratan pengobatan. Seperti pantangan terhadap sesuatu yang secara ilmiah tidak ada hubungannya dengan sakitnya, atau melakukan ritual tertentu seperti semedi/meditasi atau memperhitungkan weton(tanggal lahir), menyembelih hewan sebagai tumbal dan sebagainya.
Selain cara, hendaknya diperhatikan pula kondisi yang mengobati ( jika pengobatan menggunakan cara yang menunjukkan symbol-simbol islam), adakah hal-hal aneh yang pernah dan biasa dia kerjakan? Seperti menyepi, puasa dengan cara dan batasan waktu tertentu yang tidak dicontohkan di dalam islam, atau mencampur antara ayat dengan mantera-mantera. Sebagian dukun bahkan ada yang melakukan pengobatan dengan membaca qulhu sungsang, yakni membaca al-ikhlas dengan dibalik, dari bawah ke atas. Jelas ini merupakan pelecehan terhadap ayat allah yang suci, meski terkadang cara yang ditempuh tersebut menyebabkan sembuhnya penyakit.
Syeikh Wahid Abdussalam Bali menyebutkan beberapa ciri khas dan perilaku dukun. Jika ciri-ciri tersebut ada pada seorang tabib, maka dia adalah dukun. Meskipun beberapa ciri yang beliau sebutkan di bawah ini ada yang khas timur tengah, tapi tidak sedikit memiliki modus sama. Atau hanya berbeda sedikit coraknya dengan dukun di negeri ini.
Diantara cirinya adalah :
- Bertanya kepada pasien tentang namanya dan nama ibunya (kecuali data pasien untuk keperluan administrasi, atau yang terkait dengan riwayat penyakit-pen)
- Mengambil salah satu benda bekas pakai penderita, seperti kain, tutup kepala, sapu tangan dan semisalnya.
- Kadang-kadang meminta binatang dengan cirri-ciri khusus untuk disembelih tanpa menyebut nama ALLAH. Kadang-kadang juga mengoleskan darah ke bagian tubuh yang sakit, atau melemparkannya ke tempat yang sepi (dukun di jawa biasanya meletakkan sembelihan sesaji itu di bawah jembatan, dibawah pohon besar, di perempatan jalan dan tempat-tempat yang dianggap angker-pen)
- Menulis rajah-rajah tertentu.
- Membaca mantera-mantera yang (sebagian atau seluruhnya) tidak bisa dipahami maknanya.
- Memberi rajah berupa segi empat yang di sana tertulis beberapa huruf atau angka.
- Menyuruh penderita untuk menyepi selama masa tertentu dikamar yang tidak terkena sinar matahari ( di sini dikenal dengan puasa pati geni)
- Kadang-kadang melarang pasien menyentuh air selama masa tertentu, biasanya selama empat puluh hari.
- Membekali pasien dengan benda-benda yang harus dikubur di tanah.
- Membekali penderita kertas-kertas untuk dibakar supaya berasap.
- Berkomat-kamit membaca sesuatu yang tidak dipahami maknanya.
Jangan Asal Sembuh
Hal yang menyebabkan banyak orang terjebak pada praktik pengobatan yang sesat adalah ketika memandang bahwa cara apapun adalah bagian ikhtiar yang diperbolehkan, yang penting berusaha sedangkan Allah yang menentukan. Sekilas alasan ini nampak benar, namun keabsahan cara adalah perkara pokok pertama yang harus dijaga. Karena nabi mewanti-wanti kepada umatnya :
“Maka berobatlah kalian, akan tetapi janganlah kalian berobat dengan yang haram.” (HR.Abu Dawud)
Sikap serba boleh demi sehat ini menyebabkan banyak orang terjebak ke dalam dosa dan tidak selektif memilih alternatif penyembuhan. Ada yang pergi ke dukun dan paranormal yang menyebabkan shalatnya tidak diterima selama 40 malam seperti dalam hadits yang diriwayatkan oleh Muslim.
Bisa jadi seseorang melakukan semedi, puasa ngebleng atau puasa mutih lalu tercapailah apa yang diinginkan. Baik dengan munculnya kekuatan tertentu, teraihnya ambisi atau terhindarnya seseorang dari musibah yang menimpanya. Akan tetapi hal ini sama sekali bukanlah merupakan indikasi benarnya perbuatan tersebut atau diridhainya oleh ALLAH. Betapa banyak seorang hamba berdo’a kepada Allah dengan do’a yang tidak baik lalu dikabulkan permohonannya sehingga hal itu menjadi sebab kehancurannya di dunia dan di akhirat?
Bisa jadi seseorang berdo’a kepada Allah dengan cara yang diharamkan Allah, lalu Allah mengabulkannya. Bukan karena Allah ridha kepadanya, namun bisa jadi karena istidraj.
Rasulullah bersabda dalam dahist yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad :
“jika allah memberikan kenikmatan kepada seorang hamba padahal dia tetap dengan maksiat yang dikerjakannya, maka sesungguhnya itu adalah istidraj”(dibinasakan secara berangsur-angsur) kemudian nabi membaca firman allah (yang artinya) “maka tatkala mereka melupakan peringatan yang telah diberikan kepada mereka, kamipun membukakan semua pintu kesenangan untuk mereka, sehingga apabila mereka bergembira dengan apa yang telah diberikan kepada mereka, kami siksa mereka dengan sekonyong-konyong maka ketika itu mereka terdiam berputus asa”(QS.Al-an’am 44)
Tercapainya tujuan dengan cara tertentu bukanlah bukti akan benarnya cara yang telah ditempuh tersebut. Akan tetapi kebenaran adalah apa yang sesuai dengan syariat, dan kesesatan adalah apa saja yang menyelisihi syariat.
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah mengisahkan di dalam kitabnya “iqtadha’us shirathil mustaqim” suatu kisah yang amat berharga untuk kita ambil pelajarannya.
Suatu ketika orang-orang kafir dari golongan nasrani berhasil mengepung kota kaum muslim namun mereka kehabisan persediaan air minum. Lalu mereka melobi kepada kaum muslimin agar mau memberikan air kepada mereka dengan jaminan mereka akan meninggalkan kota kaum muslimin. Maka bermusyawarahlah pada pemimpin kaum muslimin. Mereka berkata, “biarlah mereka kehausan dan lemah kekuatan mereka lalu kita serang mereka.” Kemudian orang-orang kafir berdoa kepada allah agar menurunkan hujan atas mereka dan tiba-tiba hujan pun turun.
Maka menjadi bingunglah orang-orang awam dari kaum muslimin melihat fenomena tersebut, yang mana do’a orang kafir dikabulkan oleh Allah. Maka berkatalah amir kepada seorang yang alim, “ berilah pengertian kepada manusia.” Lalu disiapkanlah mimbar untuk beliau lalu beliau berkhutbah :”ya Allah, sesungguhnya kami mengetahui bahwa orang-orang kafir tersebut adalah termasuk yang rizkinya menjadi tanggungan-mu sebagaimana engkau firmankan dalam kitabmu
“ dan tiada suatu binatang melata pun di bumi melainkan allah lah yang member rizkinya” (QS.hud 6).
Mereka berdoa kepadamu dalam keadaan terjepit, sedangkan engkau mengabulkan doa orang-orang yang dalam keadaan terjepit jika mereka memohon kepadaMu,karena itulah Engkau menurunkan hujan bagi mereka karena semata mata Engkaulah yang menanggung rizki mereka dan karena mereka berdoa kepadamu dalam keadaan terjepit. Bukan karena engkau mencintai mereka, bukan pula karena engkau mencintai agama mereka. Sekarang kami berharap agar engkau menunjukkan kepada kami tanda-tanda kekuasaanMu sehingga menjadi teguhlah keimanan hamba-hamba-Mu yang beriman..” maka sebentar kemudian Allah mengirimkan badai atas orang-orang kafir dan binasalah mereka.
Begitu juga dengan iblis yang dikabulkan doanya oleh Allah, bukan berarti Allah meridhoi sikap iblis. Tatkala iblis meminta tangguh kepada Allah agar dapat hidup hingga datangnya kiamat, Allah mengabulkan permintaannya sebagaimana firmannya :
“sesungguhnya kamu termasuk mereka yang diberi tangguh” (QS.Al-A’raf15)
Sungguh kasihan manusia yang bertauhid dikala sehatnya, namun musyrik dikala sakitnya. Apalagi sakit itulah yang akhirnya menjadi sebab tercabutnya nyawa. Kematian manakah yang lebih tragis dari kematian dalam keadaan musyrik, sedangkan nabi memastikan ia dengan neraka,
“barang siapa yang mati dalam keadaan menyekutukan Allah dengan sesuatu, pasti masuk neraka.”(HR.Muslim)
Incoming search terms:
- rahasia dukun
- cara pengobatan dukun
- binatang yang identik dengan dukun
- ciri pengobatan dengan bantuan jin
- bagaimana pandangan islam mengenai pengobatan menggunakan tenaga dalam
- rahasia rukyah
- pengobatan alternatif dengan memindahkan penyakit ke binatang
- ciri-ciri orang dukun
- perbedaan pengobatan islam dan dukun
- perspektif medis dari thibbun nabawi
Related posts:
Tagged with: dukun • pengobatan alternatif • perdukunan • ruqyah
Filed under: Thibbun Nabawi
Like this post? Subscribe to my RSS feed and get loads more!